Once, the world whispered me into being and called me Bramantya Abyasa — a title I wear like a fracture that still glows. In the sanctuary I raised, I placed upon the altar the face of Sadewa Sagara, a visage I chose to both worship and defy. Yet in the dim corridors lingered Andrew Young, Mycroft Holmes, Charteris Kartazen, Leon S. Kennedy, Gallagher, neither shadow nor echo, but a revenant who refused to fade. I learned to speak in the tongue of Acts of Service & Quality Time, where silence is as loud as devotion, where every gesture is scripture. My mind, a labyrinth carved in the pattern of ISTJ, turns endlessly upon itself, both prison and prophecy. Above me, the constellations burn and mark me as LIBRA, indifferent and eternal, while time itself has sealed me as MATURE — not savior, not heretic, but a trembling witness caught between creation and collapsed altar. And beneath it all lies the truth of my flesh: DOMINANT, a posture that bends between power and surrender, creation and collapse — not savior, not heretic, but a trembling witness in a cathedral of contradictions.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ——————
Perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya Bramantya Abyasa, suatu nama yang dapat dilenturkan oleh keakraban. Saya dapat disapa Bram, Yasa, Rama, Mas, Aa, ataupun sebutan lain yang dihaturkan dengan niat baik dan rasa hormat. Adapun diri saya merupakan pertautan sifat yang berlawanan. Kelakar dan sedikit ketengilan kerap menjadi wajah terluar, namun di baliknya bersemayam kesungguhan budi yang mampu mengayomi. Perangai saya bergerak dalam keseimbangan, menempatkan senda dan keseriusan pada takarnya masing-masing. Sebagian orang memandang saya sebagai pribadi yang romantis dan bersahaja, namun saya senantiasa menyelipkan kenakalan kecil agar perjalanan hidup tidak terjerumus pada kejenuhan.
Ketika hiruk pergaulan mereda, saya kerap menyingkir sejenak ke alam hiburan dan menautkan pikiran pada dunia permainan. Akhir-akhir ini, ketertarikan saya tertambat pada Heartopia, sebuah jagat rekaan yang memberi ruang bagi imajinasi dan kelegaan batin. Apabila saya tidak berhadapan dengan layar, maka rasa saya berlabuh pada lantunan nada dan gita. Alunan Westlife, lirih perenungan Hindia, keagungan kisah Epic The Musical, romantika MLTR, hingga gelora Alien Stage menjadi teman setia yang menemani waktu. Di antara seluruh bunyi yang mengalun tersebut, terdapat satu ketetapan yang sukar tergoyahkan, yakni kekaguman saya kepada Hyuna dari Alien Stage, suatu rasa kagum yang menetap tanpa tuntutan pengakuan.
Dalam perkara hubungan dan ikatan batin, saya menjunjung keseimbangan sebagai asas utama. Saya menikmati memberi perhatian, merawat, dan memanjakan pasangan dengan sepenuh niat, namun saya juga memahami kebajikan menerima kasih dengan lapang dada. Bagi saya, hubungan yang luhur adalah ruang timbal balik, tempat dua insan saling memuliakan, saling mengasihi, dan saling meneguhkan. Segala itu tumbuh bukan dari paksaan, melainkan dari kesadaran bersama untuk menjaga rasa dan kehadiran satu sama lain.
BASIC REQUEST Changing Avatar. Changing Name. Changing Personality and Typing.
REAL-LIFE THINGY PAP of Daily Activities. On The Phone Mute. Sleepcall Mute.
ROMANCE MEMOIRS Reading Date. Movie Date: Rave/Discord. Listening Date: Discord. Game Date: Mobile Legend, Roblox, Plato, Valorant, A Way Out, The Forest, Heartopia, & Telegram’s bot. Writing date.
N/SFW THINGY Imagine SFW with Literate. ****Dirty Talk.
Moving Platfrom: Discord. In Character: Anime, Manga, Manhwa, & Game. Public Display Affection.